EXPOSURE
Dalam fotografi ada 3 (tiga) hal yang sangat berpengaruh mengatur cerah dan gelapnya image (foto). Dikenal dengan istilah Exposure Triangle, yaitu : ASA/ISO,Shutter speed (kecepatan rana), dan aperture (diafragma/iris).
KECEPATAN FILM (ISO/ASA)
Kadar sensitifitas film pada cahaya diindikasi dengan sistem angka yang disebut ISO (International Standards Organization) yang sebelumnya disebut ASA (American Standards Organization). Sistem angka tersebut mewakili kecepatan, contohnya : ISO 25, 50, 100, 200, 400, 800, 1600, 3200 dst. Setiap kali kelipatan angka pada ISO disebut dengan “stop”. Film ISO 100 satu stop lebih lambat dari film ISO 200 : Film ISO 800 tiga stop lebih cepat dari film ISO 100.
Perlu diketahui bahwa ketika angka ISO menunjukkan angka dua kali lipat dari angka sebelumnya, film tersebut dua kali lebih sensitif terhadap cahaya (sistem yang mirip dengan mekanisme shutter dan aperture). Jadi, film dengan ISO 200 hanya memerlukan cahaya setengah lebih sedikit dari film ISO 100 untuk mendapatkan exposure yang sama. Sebaliknya, film ISO 100 memerlukan cahaya dua kali lebih banyak daripada film ISO 200.
Dalam exposure, film yang tidak terlalu sensitif terhadap cahaya memerlukan kecepatan shutter yang lambat (lama) dan bukaan diafragma/aperture lebih lebar, sedangkan film yang lebih sensitif terhadap cahaya hanya membutuhkan kecepatan shutter yang singkat (lebih cepat) dan bukaan diafragma/aperture yang lebih kecil.
Film yang tidak terlalu sensitif oleh cahaya disebut film “slow-speed” yaitu ISO 25, 50. Sedangkan film yang lebih sensitif terhadap cahaya disebut “fast-speed yaitu ISO 400, 800. Lebih cepat dari ISO 800 disebut “super fast speed yaitu ISO 1600, 3200. terdapat juga film yang disebut “Medium speed yaitu ISO 100 dan 200.
SHUTTER SPEED (Kecepatan Rana)
Shutter speed mengontrol jumlah cahaya masuk dengan lama waktu bukaan. Setiap bukaan mengatur cahaya setengah lebih sedikit atau dua kali lebih banyak, dan ditandakan dengan pembagian dalam hitungan detik, contoh : 1 (1/1 atau 1 detik), 2 (1/2 detik), 4 (1/4 detik), 8 (1/8 detik) dan terus 15, 30, 60, 125, 500 dan selanjutnya. Ada beberapa jenis kamera mampu membuka shutter mulai dari 30 detik sampai dengan 1/12.000 detik. Lebih cepat kecepatan shutter akan membeku atau menghasil subyek yang bergerak tampak tajam.
APERTURE (Diafragma)
Aperture adalah besar ukuran bukaan lensa (diafragma). Gunanya untuk mengontrol kadar terang cahaya masuk yang mencapai film. Aperture bekerja seperti kelopak mata manusia, dapat dibuka lebar atau dipersempit untuk mengatur banyak atau sedikit cahaya. Di kamera pengaturan ini diatur oleh diafragma, sekat-sekat yang bertumpukkan yang terdapat didalam lensa. Diafragma dapat diatur bukaannya. Bisa dibuka lebar untuk mendapatkan cahaya lebih banyak, dan dapat disempitkan untuk mendapatkan cahaya lebih sedikit.
Besar dan kecilnya ukuran aperture diindikasikan oleh “F-number” atau “F-stop”. Ada istilah dalam fotografi, lensa di ‘stop-down’ atau turun atau ditutup ketika ukuran diafragma diperkecil atau lensa di-open atau dibuka ketika ukuran diafragma diperbesar. Standarisasi seri dari F-number atau F-stop adalah: F/1, F/1.4, F/2, F/2.8, F/4, F/5.6, F/8, F/11, F/16, F/22, F/32, F/64. Bukaan diafragma terbesar adalah F/1, yang mengumpulkan cahaya paling banyak. Setiap F-stopsetelah itu mengumpulkan cahaya setengah lebih sedikit dari sebelumnya, atau dua kali lebih banyak dari sesudahnya. Misalnya, F/4 dua kali lebih banyak mengumpulkan cahaya dari F/5.6 dan setengah lebih sedikit dari F/2.8. (Perhatikan bahwa F-stop mempunyai kesamaan relasi setengah dan dua kali lipat cahaya pada kecepatan shutter). Jadi indikasi F-number berbanding terbalik dengan besar diafragma.
PENGGUNAAN ISO,SHUTTER-SPEED, DAN APERTURE SECARA BERSAMAAN
Ketiganya, berpengaruh dalam mengatur banyaknya cahaya yang mencapai film. Untuk mendapatkan exposur yang benar (tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang), kita membutuhkan kombinasi antara ISO, shutter dan aperture. ISO adalah kadar sensitifitas film terhadap cahaya. Film dengan ISO 200 lebih sensitif dua kali lipat dari film ISO 100. Sebaliknya, film ISO 100 setengah kali lipat kurang sensitif dari film ISO 200. Setiap kelipatan angka pada ISO disebut dengan stop. Begitu juga dengan shutter dan aperture. Shutter speed mengatur waktu lamanya cahaya mencapai film. Aperture mengatur volume cahaya mencapai film. Sebagai contoh: dengan ISO 400, setelah pengukuran cahaya, misalnya exposur yang dianjurkan adalah shutter 1/125 pada F/5.6. Maka, pada film ISO 200 yang mana dua stop lebih lambat, untuk mendapat exposur yang sama dengan ISO 400, 1/125 dan F/11, ada dua cara: Merubah kecepatan shutter dua kali lebih lambat yang kombinasinya menjadi 1/30 dan F/11, atau dengan membuka diafragma dua stop lebih lebar menjadi 1/125 dan F/5.6.
Kombinasi ISO, shutter-speed dan aperture, dapat diibaratkan dengan air yang mengalir pada kran untuk mengisi sebuah gelas: waktu yang diperlukan air untuk mengisi gelas tergantung pada lebar atau sempitnya bukaan kran. Apabila dibutuhkan 2 detik oleh air untuk mengisi penuh gelas dengan bukaan kran lebar, maka dibutuhkan 4 detik oleh air untuk mengisi penuh gelas dengan bukaan kran setengah lebih kecil. Sekarang, bayangkan apabila ISO adalah gelas, shutter adalah waktu yang dibutuhkan, bukaan kran adalah diafragma dan air adalah cahaya.
Walaupun kesalahan exposur, seperti:Over-exposed (terlalu terang) dan under-exposed (terlalu gelap), dapat dikoreksi pada proses cetak, akan tetapi hasil terbaik adalah yang dihasilkan pada saat pengambilan gambar(foto). Untuk itu sangat disarankan menghasilkan exposur yang baik.
